Musik-Musik yang gue Dengerin di Playlist Gue

Beberapa review singkat tentang musik-musik yang sedang gue dengerin.

#ExploreTayan

Cerita gue mengunjungi Tayan, Kalimantan Barat selama 2 bulan untuk melakukan survey georadar untuk nikel.

Dunia Unik Pesantren

Kumpulan kisah-kisah gue selama gue mondok di Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L yang pastinya unik dan seru.

Review Asik

Musik-musik kece, novel-novel keren sadis, sama film yang gue review gue kumpulin di sini..

My Trip My Adventure

Baik yang murni jalan-jalan atau curi-curi waktu di sela kerja, semuanya ada di sini..

Sony VAIO Repair Saga Continues..

Oke, jadi gue lagi agak malas aja nulis blog. Emang banyak banget alasan buat gak nulis. Yang paling jadi hambatan gue beberapa bulan ini adalah ngadatnya laptop gue untuk yang kesekian kalinya..

Laptop gue, Sony VAIO SVF14416SGW, yang udah menemani gue ke mana-mana selama hampir 3 tahun ini..


Maret 2016
Layar laptop gue adalah korban pertama yang butuh perhatian. Gara-gara cerobohnya gue menjejalkan barang-barang yang lumayan berat ke dalam tas laptop dengan alasan efisiensi tempat, layar laptop gue jadi bergaris a.k.a bergaris. Akhirnya gue putusin buat cabut ke Mangga Dua karena gue tau di sana ada Sony Center. Setelah gue jelasin keluhan gue ke petugas di Sony Center gue kaget waktu dijelasin bahwa harus diganti semua bagian layarnya dengan total biaya 4,6 juta. Buset. Mendingan gue beli laptop baru sekalian.
Akhirnya gue putusin buat servis di tempat lain yang gak resmi. Gue nemu tempat servis yang sanggup repair dengan harga 1,2 juta (saja). Setelah nunggu beberapa jam, laptop gue bisa diperbaiki. Sempet gue bawa ke lapangan juga beberapa minggu berikutnya.

Agustus 2016
Laptop gue ngadat lagi. Kali ini keyboardnya yang bermasalah. Dan gue yakin masalahnya karena pernah ketumpahan kopi tahun lalu. Sebenarnya beberapa kali keyboard gue ada tombolnya yang bermasalah, tapi hanya temporer doang. Tapi kali ini beda, karena tombol Z-X-V-N-M-left-up-right-down gue bener-bener gak bisa ditekan. Akhirnya begitu ada kesempatan ke Jakarta gue perbaiki lagi ke tempat yang sama. Kali ini gue abisin 600rb buat ganti keyboard. Setelah gue coba keyboardnya dan ternyata oke, gue balik ke kosan.
Ketika gue coba nyalain di kosan, laptop gue overheat dan langsung mati. Gue nyalaiin lagi, mati lagi. Begitu seterusnya. Akhirnya gue balik lagi dong ke tempat servisnya. Laptop gue didiagnosa VGA-nya bermasalah. Gue lemes dong.
Belum nyerah, gue bawa ke Sony Center di Jogja. Ternyata cuma bermasalah di kipas yang nempel di motherboard. Sedikit lega ketika gue cuma menghabiskan 300ribu doang. Beberapa hari berikutnya giliran software gue yang kena. Windows gue corrupt, gue balik ke Sony Center. Setelah beberapa hari, ternyata laptop di Windows gue gak berhasil direcovery. Akhirnya gue harus puas dengan Windows yang gue pasang sendiri.

Oktober 2016
Gue nulis postingan ini sambil nahan tangan gue yang dingin akibat gue pasang kipas dengan kecepatan maksimal yang diarahkan ke arah laptop. Sepertinya kipas laptop gue bermasalah lagi. Mana udah lewat sebulan lagi dari servis sebelumnya. Haduh. Itupun settingan CPU clocknya gue batesin cuma 60 persen. Lewat dari itu, suhu langsung naik. Solusi jangka pendeknya paling gue cari kipas eksternal yang dicolok ke USB port laptop. Jangka menengahnya ya gue bawa ke Sony Center lagi. Jangka panjangnya ya, siap-siap nguras rekening gue buat beli laptop baru.
Share:

Review: Travis - Everything at Once [2016]: Menjadi Dewasa Tidak Sama Dengan Ikut Arus..

Intro
Beberapa grup musik yang sudah berumur mungkin perlu mengubah gaya musiknya dengan alasan tertentu. Misalnya demi menggaet pangsa pasar yang lebih luas. Walaupun keuntungannya adalah bisa mendapatkan penggemar baru dari usia yang lebih muda, tak jarang hal ini membuat penggemar lamanya sedikit patah hati. Sepertinya Travis tidak memilih jalan ini, Travis tetap memilih untuk memainkan musiknya dengan ciri khasnya sendiri. Itu yang gue simpulkan untuk dari album terbarunya Travis: Everything at Once.

Album Artwork
Gue mulai dari album art. Jika di album sebelumnya yang juga gue review di sini artworknya lebih terkesan alami, di album kali ini Travis lebih memilih cover album yang cenderung minimalis. Menggambarkan kota dengan gedung-gedung berwarna-warni dan jalan lebar di depannya. Artwork ini muncul kembali di music video Magnificent Time yang ternyata gedunganya gak dibuat secara digital, tapi dari potongan kertas karton. Wow!

Album art Everything at Once




Track-by-Track Review
Pertama denger Radio Song sama Everything at Once ingatan gue langsung berasa kembali ke era 90-an dengan gebukan drumnya yang sangat nendang dan gitar elektrik yang bahkan sudah terdengar dari detik pertama, serta bassnya yang terdengar bold. Secara lirik, gue suka pemilihan kata-kata di lirik di Radio Song yang berima: Open your mouth up wide/So we can park a bus inside/How do you sleep at night/With all of the shit you hide/You’re the only one who thinks it’s right/No wonder the bed bugs bite. Kalo yang gue denger sih artinya lebih ke inget seseorang dari lirik lagu yang diputer di radio dan ingin membagikannya ke orang tersebut tapi sudah terlambat. 

Berbeda dengan dua lagu tadi, All Of The Place dan What Will Come terdengar seperti membawa formulasi musik yang sama dengan album kedua hingga keempat. Terlihat dari gebukan drumnya dan irama gitar yang mirip dengan lagu Sing. What Will Come ini liriknya ngena banget. Tentang kesiapan seseorang yang siap untuk menerima keputusan selanjutnya karena ternyata cinta seseorang yang dia sukai telah berubah.

Paralysed, 3 Miles High, dan Stranger On Train secara musik lebih mirip dengan album sebelum ini. Khusus untuk lagu Paralysed gue seperti mendengar soundtrack film kolosal China dengan backing vocal mendayu yang terdengar di bagian awal dan akhir dari lagu ini. Yang gue suka dengan 3 Miles High adalah liriknya yang dalam: Everyone has a wall to climb/But we don't really have the time/To give a who-how about it/And your life is a Russian doll/You were given when you were small/And they all inside you.

Animals, Idlewild,  dan Magnificent Time kalo gue bilang adalah sesuatu yang fresh. Coba aja denger aja bagian chorus-nya Animals, perpaduan drum, gitar, bas, dan biola yang asik dengan pola play-pause-play-pause (gue gak tau istilah yang tepat buat menggambarkannya) bikin mood naik. Magnificent Time ini lebih upbeat dengan genre yang lebih dance. Tanpa unsur EDM yang menjadi genre paling ngetrend saat ini, toh tetap saja Magnificent Time ini berhasil membuat kepala gue menikuti iramanya. Bahkan di video klip dan ketika live, Travis menambahkan gerakan dance-nya yang ini adalah hal baru bagi Travis. Josephine Oniyama digaet oleh Travis untuk berkolaborasi di Idlewild, dan itu berhasil menurut gue. Memang bukan baru pertama kali bagi Travis featuring dengan musisi lain, karena sebelumnya pernah juga dengan KT Tunstall di Under The Moonlight. Tapi yang bikin lagu ini unik adalah gue bisa mendengar Fran Healy, sang vokalis, menyanyikan lirik lagu secara rap. Memang levelnya berbeda dengan Eminem, karena memang bukan spesialisasinya. Yang jelas, perpaduan suara Fran Healy dan Josephine Oniyama berhasil membuat lagu ini menjadi lagu terfavorit gue di album ini.

Kesimpulan
Travis, dengan album ini, sekali lagi bisa membuktikan bahwa bagi musisi menjadi dewasa bukan berarti harus mengikuti arus dan tidak mengikuti arus bukan berarti sebuah album tidak layak untuk didengarkan. Jika suka dengan lagu-lagunya Travis di album-album sebelumnya macam Sing, Why Does It Always Rain On Me, Turn, Driftwood, dan lainnya, maka album ini layak dibeli dan didengarkan karena gue yakin lo gak bakal kecewa.
Share:

Kelantan Project Season 2..

Ini apa sih? TV Series? Hahaha..

Iya, jadi bulan lalu gue balik lagi ke Malaysia buat ngerun TDIP.. It's no surprise sih, melihat hasil yang memuaskan di area sebelumnya..

Worker gue yang lagi membawa passive cable SuperSting.. Ki-Ka: Izat, Badru, Nizam, Daus. (Captured with Sony DSC-WX80)
Nama areanya adalah Chuchuh Puteri yang masuk dalam wilayah administratif Jajahan (di Indonesia setara Kabupaten) Kuala Krai.. Karena areanya dekat kampung dan tidak memungkinkan untuk flying camp serta keputusan dari client untuk tidak menyewa rumah di sekitaran situ, jadilah kita harus bolak-balik Tanah Merah - Kuala Krai yang memakan waktu 3 jam pulang perginya..

Kira-kira kayak gini lah rutenya setiap hari..
Tapi gak masalah.. Itu malah nambah-nambah pengalaman gue.. Misalnya, gue bisa dengerin musik-musik Malaysia lewat radio sepanjang perjalanan.. Radio yang populer di sana adalah Era FM, Nasional FM, dan satu lagi gue lupa namanya.. Dan gue juga bisa mengamati behavior orang-orang di sana ketika mengemudi kendaraannya yang mana super duper rapi dan taat banget sama peraturan.. 

Udah itu dulu, ntar disambung lagi.. Hehe..
Share:

Belajar Pegang Mobil..

Bukan secara harfiah ya.. Gue gak tinggal di kampung yang gak pernah ada mobil dan gak pernah liat mobil.. Yang sekalinya ada mobil langsung pada belajar pegang mobil: pintunya, kacanya, spionnya.. Hahaha.. *Sungguh mukadimah yang garing banget*

Gue di depan stir di hari kedua gue belajar nyetir.. (Captured with Sony ActionCam HDR-AS20)
Ternyata bawa mobil (lagi-lagi, bukan harfiah) tuh gak segampang yang gue kira sebelumnya.. Bisa diliat di foto yang atas, walaupun kondisi di luar lagi hujan, gue basah kuyup bukan karena air hujan, tapi keringat.. Gue harus mengatur gas, gigi, kopling, dan rem.. Dan itu cukup menguras energi.. Haha.. Jadi mungkin masih perlu beberapa waktu bagi gue sampe bisa bener-bener bawa mobil.. Tapi, gak papa lah.. Mudah-mudahan cepet bisa.. Oke..
Share:

Gelar Ke-12 FA Cup Manchester United!!! Yeayyyyyyy!!!

Tadi malam adalah malam yang pastinya gak bakal terlupakan bagi fans Manchester United.. Gimana gak, tim kesayanganya berhasil memenangkan laga final yang sangat dramatis melawan Crystal Palace..

YEAAAAYYYYYYYY..
Karena MU memenangi FA Cup terakhir pada 2004 silam, praktis ini adalah gelar FA Cup pertama bagi semua pemain, kecuali Juan Mata yang pernah memenangi FA Cup waktu masih berjersey Chelsea.. 

Statistik pertandingan bisa dilihat di bawah ini..
Statistik Pertandingnnya..
Betul, MU mendominasi pertandingan.. Tapi justru MU kebobolan lebih dahulu lewat tendangan Puncheon dari sisi kiri area serang Palace di menit 78.. Terang aja, Alan Pardew, pelatih Palace, sangat senang.. Dan ekspresinya dia lampiaskan dengan dancenya yang bikin pendukung MU panas..
Kayak ginin nih.. Hahaha..
Tapi, kalo gue jadi Pardew, pasti gue bakal ngerasa canggung ketika 3 menit kemudian gawang klub yang dilatihnya langsung kebobolan.. Berawal dari aksi solonya sang kapten, Rooney, dari tengah lapangan yang berhasil melewati sekitar 6 pemain Palace, bola kemudian dioper ke depan gawang. Fellaini yang tingginya macam pohon, dengan mudahnya memantulkan bola ke arah Mata di sebelah kirinya, dan booommm.. Kiper palace gak bisa menghalau bola yang meluncur ke gawangnya.. Skor 1-1 bertahan hingga menit 90 dan pertandingan dilanjutkan hingga babak perpanjangan waktu..

Musibah bagi MU, Smalling mendapatkan kartu kuning keduanya di menit ke-105 karena melanggar penyerang Palace.. Dengan sisa 10 pemain MU, justru membuat pemain Palace yang sebelumnya terkesan rapat di belakang tertarik untuk bermain lebih ke depan.. Hal ini dimanfaatkan oleh pemain MU, dan benar saja, Lingard yang masuk menjadi pemain pengganti berhasil menceploskan tendangan volinya di menit ke-110.. Skor 1-2 bertahan hingga akhir yang memastikan MU meraih gelar FA Cup-nya yang ke-12.. Ini menjadikan MU berhasil menyamakan rekor Arsenal yang juga sama-sama berhasil menyandang 12 gelar FA Cup..

Dengan keberhasilan ini, beberapa menyebutkan posisi Van Gaal sebagai manajer MU musim depan sedikit lebih aman.. Tapi, kita liat.. Mou? Pokoknya liat perkembangannya aja deh.. Haha..

Oya, yang mau liat highlightnya bisa liat di video di bawah ini..



Share:

Unboxing Sony Walkman NW-A26HN: Hi-Res Music Player From Sony With Digital Noise Cancelling..

Kali ini gue unboxing gadget terbaru gue: Sony NW-A26HN..

Sony NW-A26HN..
Boleh dibilang ini adalah penerus Walkan generasi sebelumnya, A10 series.. Yang berbeda dari generasi sebelumnya adalah seri A20 (A25, A26, dan A27) ini sudah mendukung bulit-in Digital Noise Cancelling, tentunya dengan headset yang mendukung ya..

Yang mau liat video unboxingnya bisa streaming di channel Youtube gue di sini.. Atau gue langsung tampilin aja di sini..


Jadi, isi yang ada di dalam kotaknya adalah sebagai berikut.
  1. Unit Sony NW-A26, dengan memori internal 32GB
  2. In-ear headset MDR-NW750N, yang udah dukung DNC dan Hi-Res Audio
  3. Earbud (ukuran S, M, dan L)
  4. Kabel USB
  5. Klip untuk headset
  6. Manual book
  7. Kartu garansi

Di dalam kotak..

Review menyusul ya..
Share: